Kamis, 01 Desember 2011

0
PAN (Penilaian Acuan Normatif) dan PAP (Penilaian Acuan Patokan)

Pendekatan PAN dapat dipakai untuk semua matakuliah, dari matakuliah yang  paling  teoritis  (penuh  dengan  materi  kognitif)  sampai  ke  matakuliah yang   praktis   (penuh   dengan   materi   ketrampilan).  Angka-angka   hasil pengukuran  yang  menyatakan  penguasaan  kompetensi-kompetensi  kognitif, ketrampilan,  dan  bahkan  sikap  yang  dimiliki  atau  dicapai  oleh  sekelompok mahasiswa  sebagai  hasil  dari  suatu  pengajaran,  dapat  di  kurvekan.  Dalam pelaksanaannya   dapat   ditempuh   prosedur   yang   sederhana.   Setelah pengajaran   diselenggarakan,    kelompok    mahasiswa    yang    menerima pengajaran  tersebut  menjawab  soal-soal  atau  melaksanakan  tugas-tugas tertentu yang dimaksudkan sebagai ujian. Hasil ujian ini diperiksa dan angka tersebut  disusun  dalam  bentuk  kurve.  Kurve  dan  segala  hasil  perhitungan yang  menyertai  (terutama  angka  rata-rata  dan  simpangan  bakul)  dapat segera dipakai dalam PAN.
Pendekatan  PAP  tidak  berorientasi  pada  “apa  adanya”  pendektan  ini tidak  semata-mata  mempergunakan  angka  rata-rata  yang  dihasilkan  oleh kelompok  yang  diuji,  melainkan  telah  terlebih  dahulu  menetapkan kriteria keberhasilan,  yaitu  “batas  lulus”  penguasaan  bahan  pelajaran,  dan  dalam proses   pengajaran.   Tenaga   pengajar   tidak   begitu   saja   membiarkan mahasiswa  menjalani  sendiri  proses  belajarnya,  melainkan  terus  menerus secara   langsung   ataupun   tidak   langsung   merangsang   dan   memeriksa kemajuan  belajar  mahasiswa  serta  membantunya  melewati  tahap-tahap secara berhasil. Proses pengajaran yang menjadi kegiatan PAP dikenal adanya ujian  pembinaan  (formative  test)  dan  ujian  akhir  (summative  test).  Ujian pembinaan  dilaksanakan  pada  tahap  tersebut.  Usaha  ini  akan  mencegah mahasiswa  dari  keadaan  terlanjur  tidak  menguasai  dengan  baik  bahan kompetensi  dari  tahap  yang  satu  ke  tahap  berikutnya  seperti  dituntut  oleh TKP.  Hasil  ujian  pembinaan  ini  dipakai  sebagai  petunjuk  (indikator)  apakah  mahasiswa   tertentu   memerlukan   bantuan   dalam   menjalankan   proses belajarnya atau tidak. Ujian akhir dilaksanakan pada akhir proses pengajaran. Ujian ini meliputisemua  bahan  yang  diajarkan  dalam  keseluruhan  proses  pengajaran  dengan tujuan  menguji  apakah  mahasiswa  telah  menguasai  seluruh  bahan  yang diajarkan itu dengan baik. Ujian akhir ini didasarkan sepenuhnya pada TKP. Jika  ujian  pembinaan  benar-benar  diselenggarakan  dan  hasil-hasilnya dipakai   untuk   membantu   mahasiswa   yang   memerlukan,   maka   PAP menekankan bukan hanya pada segi mutu hasil belajar mahasiswa tetapi juga pada  segi  mutu  hasil  belajar  mahasiswa  tetapi  juga  pada  segi  banyaknya mahasiswa  yang  berhasil.  Sebanyak  mungkin  mahasiswa  dirangsang  dan dibantu untuk mencapai penguasaan kompetensi yang tinggi.

Penilaian Acuan Normatif (PAN)

Nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu. Artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan nilai di kelompok itu.
Contoh: Suatu kelompok peserta didik (siswa) terdiri dari 9 orang mendapat skor (nilai mentah):
50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, 30
Dari skor mentah ini dapat dibaca bahwa perolehan tertinggi adalah 50 dan perolehan terendah adalah 30. Dengan demikian nilai tertinggi diberikan terhadap skor tertinggi, misalnya 10. Secara proporsional skor di atas dapat diberi nilai 10, 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6.
Cara lain ialah dengan menghitung persentase jawaban benar yang dijawab oleh setiap siswa. Kemudian kepada siswa yang memperoleh persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi. Jika skor (nilai mentah) di atas didapat dari 60 butir pertanyaan atau skor maksimalnya 60, maka (perhatikan tabel di bawah ini)!
Tabel. 1
Menghitung Nilai dari Skor (Nilai Mentah)
Nilai mentah
50
45
45
40
40
40
35
35
30
Persentase
jawaban
yang benar
83,3
75,0
75,0
66,7
66,7
66,7
58,5
58,5
50,0
Nilai
(1-10)
10
9
9
8
8
8
7
7
6
Untuk mengubah persentase menjadi nilai (1-10) dengan cara bahwa persentase tertinggi diberi nilai 10, ini berarti bahwa 83,3% dihargai 10, maka 75,0% harganya adalah (75,0%/83,3%) x 10 = 9,0.
Dapat juga dicari faktor pengali terlebih dahulu, yaitu:
83,3% adalah 10 atau (83,3/100) x n = 10 atau n = 12. Jadi faktor pengalinya adalah 12, sehingga 66,7% pada nilai (1-10) adalah 66,7% x 12 = 7,9 atau 8.
Penilaian Acuan Patokan ( PAP )
          Penilaian Acuan Patokan (PAP) didasarkan pada adanya tujuan instruksional yang dapat diukur. Tujuan inilah yang dipedomani untuk melaksanakan pembelajaran dan untuk mengembangkan (menulis) alat ukur. Dengan kata lain apa yang direncanakan, maka dilaksanakan dalam proses pembelajaran dan diukur untuk menentukan apakah proses pembelajaran sudah mencapai tujuan.
Dengan PAP setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP.
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.
Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
Pada cara ini hanya mereka yang telah menguasai paling sedikit sekian persen soal-soal yang ditanyakan, siswa yang dianggap menguasai materi yang ditanyakan itu. Batas kelulusan itu misalnya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebanyak 75%. Bila hendak dikonversi terhadap nilai A, B, C, D atau E, dapat menggunakan pedoman berikut:
Tabel. 4

Konversi Angka terhadap Nilai

Angka
Nilai (Huruf)
95 – 100
87 – 94
75 – 86
60 – 74
<> 
A
B
C
D
E (Gagal)
Pengelompokan nilai-nilai mentah kedalam huruf-huruf tersebut tanpa adanya alasan ilmiah, hanya rasional saja.

Pengembangan Butir Soal untuk PAP

Pengembangan butir soal untuk PAP tingkat kesukarannya tidak diperhatikan karena maksud soal ini bukan membedakan siswa yang pandai dari siswa yang kurang, tetapi melihat penguasaan seseorang terhadap bahan atau tujuan instruksional. Juga daya pembeda tidak diperhatikan dalam PAP, tetapi yang menjadi perhatian ialah daya serap siswa.
    PAN dan PAP, keduanya digunakan dalam penilaian kognitif (pengetahuan). Kedua pendekatan ini akhirnya dapat menggunakan angka (1-10) atau (1-100) atau A, B, C, D, E. Sedangkan penilaian untuk yang non kognitif (sikap, keberhasilan, disiplin misalnya) dinyatakan secara verbal seperti baik sekali, baik, sedang, kurang, atau kurang sekali

Perbandingan PAP dan PAN


No.
Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian Acuan Normatif (PAN)
1.
PAP digunakan untuk menentukan status setiap peserta terhadap tujuan yang direncanakan
PAN digunakan untuk menentukan status setiap peserta terhadap kemampuan peserta lain
2.
Tidak memperdulikan perbedaan individual
Perbedaan individual mendapat penekanan dalam PAN
3.
Keragaman bukan menjadi faktor penentu dalam PAP, walaupun pada akhirnya tes-tes akan membedakan peserta yang telah menguasai dan belum menguasai
Pengembang PAN berupaya untuk menghasilkan tes-tes yang menghasilkan keragaman yang cukup berarti
4.
PAP secara khusus menekankan pada ranah (kawasan ) tertentu yang harus dipelajari peserta didik
PAN mengukur kompetensi umum peserta didik
5.
Butir-butir soal ditulis berdasarkan pengelompokkan, setiap kelompok terpusat pada tujuan tertentu
PAN menghasilkan penguasaan peserta didik secara umum dalam bidang pembelajaran tertentu
6.
PAP memberikan indikator yang lebih meyakinkan bahwa tujuan telah tercapai
PAN memberikan hasil pengukuran yang meyakinkan terhadap penguasaan secara umum mengenai pembelajaran
7.
PAP memiliki standar penguasaan untuk semua peserta yaitu berhasil atau gagal
PAN memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius
8.
PAP memberikan penjelasan tentang penguasaan kelompok terhadap satu atau sejumlah tujuan
PAN memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok
9.
Mudah menentukan materi yang belum dikuasai peserta didik dan mudah memberikan bantuan untuk menguasainya
Sukar menentukan dan memberi bantuan materi yang belum dikuasai peserta didik
10
Baik PAP maupun PAN diperlukan dalam pengukuran, karena keputusan yang tepat untuk memilih alat ukur yang digunakan akan sangat menentukan, misal alat ukur untuk UN berbeda dengan alat ukur untuk UMPT



0 komentar :

Posting Komentar

Berita di BEM STKIP Hamzanwadi Selong

Berita dan Fakta Ilmiah Harian

 
HMPS Pendidikan Biologi STKIP Hamzanwadi Selong | © 2010 by derajad | Supported by duaderajad & Free Themes