Kamis, 01 Desember 2011

0
Validitas

A.Pengertian Validitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Validitas diartikan sebagai sifat benar, menurut bukti yang ada, logika berfikir, atau kekuatan hokum. Menurut Diknas bahwa validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya. Sedangkan menurut Wiki pedia Indonesia diterjemahkan , kesahihan, kebenaran yang diperkuat oleh bukti atau data. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Dengan demikian kata valid sering diartikan dengan tepat, benar, sahih, absah, sehingga kata valid dapat diartikan ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan. Menurut Anas Sujiono apabila kata valid dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur maka tes dikatakan valid adalah apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain tes dapat dikatakan telah memiliki Validitas apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau mengukur apa yang seharus diungkap atau diukur lewat tes tersebut. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Validitas merupakan suatu kata yang berasal dari kata “valid” yaitu secara etimologi diartikan sebagai tepat, benar, sahih, dan abash. Dengan kata lain, sebuah tes telah memilii validitas, apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau mengukur apa yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes tersebut. Misalnya barometer adalah suatu alat yang valid untuk mengukur tekanan udara. Demikian dangan alat-alat evaluasi. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan tes yamg valid apabila tes tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya Contoh lain, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
Dalam kaitannya dengan tes dan penilaian , Retno mengemukakan tiga pokok pengertian yang bisa digunakan sebagai berikut :
1.      Validitas berkenaan dengan hasil dari sutu alat tes atau alat evaluasi, dan tidak menyangkut alat itu sendiri. Tes intelegensi sebagai alat untuk melakukan tes kecerdasan hasilnya valid , tapi kalau digunakan untuk melakukan tes hasil belajar tidak valid.
2.      Validitas adalah persoalan yang menyangkut tingkat (derajat), sehingga istilah yang digunakan adalah derajat validitas suatu tes maka suatu tes ada yangh disebut validitasnya tinggi, sedang dan rendah.
3.      Validitas selalu dibatasi pada pengkususannya dalam penggunaan dan tidak pernah dalam arti kualitas yang umum. Suatu tes berhitung mungkin tinggi validitasnya untuk mengukur keterampilan menjumlah angka, tetapi rendah validitasnya untuk mengukur berfikir matematis dan sedang validitasnya untuk meramal keberhasilan siswa dalam pelajaran matematik yang akan datang.

Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.
1.      Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.
2.      Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.
3.      Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.

B. Macam-macam Validitas
   Menurut Suharsimi ada dua jenis validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris. Sementara Retno validitas itu terbagi menjadi lima tipe yaitu validitas tampang (face validity), validitas logis (logical validity), validitas vaktor (factorikal validity), Validitas isi (conten validity), dan validitas empiris (empirical validity). Sedangkan menurut Anas ternik pengujian validitas hasil belajar secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu pengujian validitas tes secara rasional dan pengujian validitas tes secara empirik.
Pada dasarnya para ahli pendidikan melihat pengujian validitas tes itu dapat dilihat dari:
1.      Pengujian validitas tes secara rasional.Istilah lain dari istilah validitas rasional adalah validitas logika, validitas ideal atau validitas dassollen. Istilah validitas logika (logical validity) mengandung kata logis berasal dari kata logika yang berarti penalaran. Dengan makna demikian bahwa validitas logis untuk sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran, kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen bersangkutan sudah dirancang secara baik mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Dengan demikian validitas logis ini dikatakan benar apabila tes yang dilakukan sesuai denga ketentuan, peraturan dan teori yang ada, sehingga suatu tes itu dapat dikatakan valid dapat dilihat setelah instrumen soal tes tersebut telah selesai dibuat.
2.      Pengujian Validitas Tes secara Empiris.Istilah “Validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman” sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Yang dimaksud dengan validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran.
Ada 4 (empat) macam validitas yang berasal dari dasar pembagian jenis di atas yaitu :
a. Validitas Logis
1. Validitas Isi (content validity)
Validitas isi dari tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelusuran atau- pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut.
Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu : sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap eseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan.
Tipe Validitas ini merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional (professional judgment), "sejauhmana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur" atau "sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur".
Pengertian "mencakup keseluruhan kawasan" isi tidak saja menunjukkan bahwa tes tersebut harus memuat isi yang komprehensif dan relevan pada batasan tujuan ukur. Estimasi validitas ini tidak melibatkan perhitungan statistik apapun melainkan hanya analisis rasional maka tidaklah diharapkan setiap orang akan sama sependapat mengenai sejauhmana validitas isi suatu tes telah tercapai.
Validitas isi terbagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logik).
1. Validitas muka adalah tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (appearance) tes. Apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi.
2. Validitas logik disebut juga sebagai validitas sampling (sampling validity). Validitas ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logik yang tinggi suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga hanya berisi item yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang hendak diungkap haruslah dibatasi kawasan perilaku secara seksama dan konkret. Batasan perilaku yang kurang jelas menyebabkan item-item yang tidak relevan terikut dan tertinggalnya bagian penting dari objek ukur yang seharusnya dimasukan.

2. Validitas Konstruksi (construct validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apa bila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dangan aspek berpikir yang menjadi tujuan Instruksional. Contoh, jika rumusan Tujuan- Instruksionl khusus (TIK) : “Siswa dapat membandingkan antara efek biologis dan efek psikologis”, maka butis soal pada tes merupakan perintah agar siswa membedakan antara dua efek tersebut.
Konstruksi” dalam pengertian ini bukanlah “susunan”seperti yang di jumpai dalm teknik, tetapi merupakn rekaan psikologis yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ilmu jiwa dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi jiwa atas beberapa aspek seperti : ingtan (pengetahuan ), pemahaman, aplikasi, dan seterusnya.
Validitas Konstruksi merupakan tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukur. Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan kon¬sep mengenai trait yang diukur. Walaupun pengujian validitas konstrak biasanya memerlukan teknik analisis statistika yang lebih kompleks, namun hasil estimasi validitas konstruk tidak dinyatakan dalam bentuk koefisien validitas.

b. Validitas Empiris
1. Valditas” ada sekarang” (concurrent validity)
Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang udah ada. misalnya seorang guru inginmengetahui apkah tes sumatif yang di susun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dia memiliki misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu.
Validitas konkuren adalah apabila skor tes dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor. Misalnya dalam penyusunan suatu skala inteligensi. Maka dapat menguji validitas skala inteligensi yang sedang disusun dengan cara menghitung korelasi antara skor skala tersebut dengan skor pada tes inteligensi lain yang telah valid, misalnya Skala Wechsler. Disamping itu, estimasi validitas skala inteligensi tersebut dapat pula diperoleh lewat perhitungan koefisien korelasinya dengan skor pada variabel lain yang relevan, yaitu yang dapat dianggap sebagai indikator tingkat inteligensi.
Suatu contoh dimana validitas konkuren layak diuji adalah apabila kita menyusun suatu skala kecemasan yang baru. Untuk menguji validitas skala tersebut kita dapat mengunakan skala kecemasan lain yang telah lebih dahulu teruji validitasnya, yaitu dengan alat ukur TMAS (Tylor Manifest Anxiety Scale).
Validitas konkuren merupakan indikasi validitas yang memadai apabila alat ukur tidak digunakan sebagai suatu prediktor dan merupakan validitas yang sangat penting dalam situasi diagnostik. Bila alat ukur dimaksudkan sebagai prediktor maka validitas konkuren tidak cukup memuaskan dan validitas prediktif merupakan keharusan.

2. Validitas prediksi (predictive validity)
Memprediksi artinya meramal, dan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan dating.
Validitas prediktif sangat penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performansi di waktu yang akan datang. Contoh situasi yang menghendaki adanya prediksi performansi ini antara lain dalam seleksi mahasiswa baru dan contohnya adalah sewaktu kita melakukan pengujian validitas alat ukur kemampuan yang digunakan dalam penempatan karyawan. Kriteria yang terbaik antara lain adalah kinerjanya setelah ia betul-betul ditempatkan sebagai karyawan dan melaksanakan tugasnya selama beberapa waktu. Skor kinerja karyawan tersebut dapat diperoleh dari berbagai cara, misalnya menggunakan indeks produktivitas atau rating yang dilakukan oleh atasannya.

Tes yang digunakan untuk seleksi masuk perguruan tinggi, untuk menguji validitas prediktif tes seleksi tersebut diperlukan kriteria performansi yang akan datang, yang dalam hal ini adalah indeks prestasi (IP) setelah calon mahasiswa diterima menjadi mahasiswa dan menempuh pelajaran beberapa semester atau beberapa tahun kemudian. Tes seleksi masuk perguruan tinggi tersebut memiliki validitas yang tinggi apabila tes tersebut bila dikorelasikan dengan IP memiliki koefisien korelasi yang tinggi.
Koefisien korelasi antara skor tes dan skor kriteria merupakan indikator mengenai saling hubungan antara skor tes dengan skor kriteria sebagai koefisien validitas prediktif. Apabila koefisien ini diperoleh dari sekelompok individu yang merupakan sampel yang representatif, maka alat ukur yang telah teruji validitasnya akan mempunyai fungsi prediksi yang sangat berguna dalam prosedur alat ukur di masa datang.

Prosedur validasi prediktif pada umumnya memerlukan waktu yang lama dan mungkin pula biaya yang tidak sedikit dikarenakan prosedur ini pada dasarnya bukan pekerjaan yang dianggap selesai karena lebih merupakan kontinyuitas dalam proses pengembangan tes.Sebagaimana prosedur validasi yang lain, validasi prediktif pada setiap tahapnya haruslah diikuti oleh usaha peningkatan kualitas item alat ukur dalam bentuk revisi, modifikasi, dan penyusunan item-item baru agar prosedur yang dilakukan itu mempunyai arti yang lebih besar dan bukan sekedar pengujian secara deskriptif saja

C. Cara mengetahui validitas alat ukur
Validitas menunjukkan sejauh mana skor/ nilai/ ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/ pengamatan yang ingin diukur (Agung, 1990). Validitas pada umumnya dipermasalahkan berkaitan dengan hasil pengukuran psikologis atau non fisik. Berkaitan dengan karakteristik psikologis, hasil pengukuran yang diperoleh sebenarnya diharapkan dapat menggambarkan atau memberikan skor/ nilai suatu karakteristik lain yang menjadi perhatian utama.
Konsep Pengukuran Validitas
Pengukuran validitas sebenarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa besar (dalam arti kuantitatif) suatu aspek psikologis terdapat dalam diri seseorang, yang dinyatakan oleh skor pada instrumen pengukur yang bersangkutan.
Dalam hal pengukuran ilmu sosial, validitas yang ideal tidaklah mudah untuk dapat dicapai. Pengukuran aspek-aspek psikologis dan sosial mengandung lebih banyak sumber kesalahan (error) daripada pengukuran aspek fisik. Kita tidak pernah dapat yakin bahwa validitas instrinsik telah terpenuhi dikarenakan kita tidak dapat membuktikannya secara empiris dengan langsung.
Pengertian validitas alat ukur tidaklah berlaku umum untuk semua tujuan ukur. Suatu alat ukur menghasilkan ukuran yang valid hanya bagi satu tujuan ukur tertentu saja. Tidak ada alat ukur yang dapat menghasilkan ukuran yang valid bagi berbagai tujuan ukur. Oleh karena itu, pernyataan seperti "alat ukur ini valid" belumlah lengkap apabila tidak diikuti oleh keterangan yang menunjukkan kepada tujuannya, yaitu valid untuk apa dan valid bagi siapa. Itulah yang ditekankan oleh Cronbach (dalam Azwar 1986) bahwa dalam proses validasi sebenarnya kita tidak bertujuan untuk melakukan validasi alat ukur akan tetapi melakukan validasi terhadap interpretasi data yang diperoleh oleh prosedur tertentu.
Dengan demikian, walaupun kita terbiasa melekatkan predikat valid bagi suatu alat ukur akan tetapi hendaklah selalu kita pahami bahwa sebenarnya validitas menyangkut masalah hasil ukur bukan masalah alat ukurnya sendiri. Sebutan validitas alat ukur hendaklah diartikan sebagi validitas hasil pengukuran yang diperoleh oleh alat ukur tersebut.
Macam validitas umumnya digolongkan dalam tiga kategori besar, yaitu validitas isi (content validity), validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity) dan validitas konstruk. Pada penelitian ini akan dibahas hal menyangkut validitas untuk menguji apakah pertanyaanpertanyaan itu telah mengukur aspek yang sama. Untuk itu dipergunakanlah validitas konstruk. Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara variabel/ item dengan skor total variabel. Cara mengukur validitas konstruk yaitu dengan mencari korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment, sebagai berikut :
Dimana r : koefisien korelasi product moment
X : skor tiap pertanyaan/ item
Y : skor total
N : jumlah responden
Setelah semua korelasi untuk setiap pertanyaan dengan skor total diperoleh, nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai kritik. Selanjutnya, jika nilai koefisien korelasi product moment dari suatu pertanyaan tersebut berada diatas nilai tabel kritik, maka pertanyaan tersebut signifikan.
Tenik yang digunakan untuk mengetahui kesesjaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson.
Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu:
1. Korelasi produc moment dengan simpangan
Rumus korelasi produc moment dengan simpangan
dalam mana:
rxy = koevisien korelasi antara variable X dan Y, dua variable yang dikorelasikan (x=X-X dan y=Y-Y)
∑xy = jumlah perkalian x dan y
x2 = kuadrat dari x
y2 = kuadrat dari y
2. Korelasi produc moment dengan angka kasar
dalam mana:
rXY = koefisien korelasi antara variable X dan variable Y, dua variabel yang dikorelasikan.
D. Pengujian validitas tes hasil belajar
Penganalisisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, penganalisisan yang dilakukan dengan jalan berfikir secara rasional atau penganalisisan dengan logika. Kedua, penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri pada kenyataan empiris, dimana penganalisisan dilaksanakan dengan menggunakan empirical analisis.
1. Pengujian validitas tes secara rasional
Validiras rasional (logika) adalah validitas yang yang diperoleh dari hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berfikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasl belajar dapat dikatakan telah memilii valaidiras rasional, apabila telah dilakukan penganalisisan secara rasional ternyata bahwa tes hasil belajar itu memang (secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa yang harus diukur.
Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi konstruksi dan dari segi isi.
2. Pengujian validitas tes secara empirik
Dimaksud dengan validitas empirik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Dengan kata lain, validitas empirik adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan dilapangan
Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memilikia validitas empirik ataukah belum, dapat dilakukan penelusuaran dari dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya dan daya ketepatan bandingannya.
a. Validitas ramalan
           Dalam istilah ramalan terkandung pengertian mengenai sesuatu yang berhak terjadi dimasa mendatang”. Apabila istilah ramalan dikaitkan dengan validitas tes, maka yang dimaksud dengan validiras ramalan dari sudut tes adalah suatu kondisi yang menunjukan seberapa jauhkah seuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukan kemampuannya untuk meramalkan apa yang berhak terjadi pada masa mendatang.
Tes seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada seuah perguruan tinggi misalnya, adalah suatu tes yang diharapkan mampu meramalkan keberhasilan studi para calon mahasiswa- dalam mengikuti program pendidikan di perguruan tinggi tersebut pada masa yang akan datang.
b. Validitas bandingan
Tes sebagai alat ukur dapat dikatakan telah memiliki validitas andingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukan adanya huungan searah, anta rtes pertama dengan tes berikutnya. Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas pada sekarang. Dikatakan sama saat, sebab validitas tes itu ditentukan attas dasar data hasil tes yang pelaksanaanya dilakukam pada waktu yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada sekarang, sebab setiapa kali kita menyebut istilah pengalaman, maka istilah itu selalau kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa lalu itu pada saat ini sudah ada ditangan.


E. Teknik pengujian validitas item tes hasil belajar
1. Pengertian Validitas Item
Dimaksud dengan validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiiliki oleh sebutir item, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut.
Eratnya hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas itu kiranya dapat dipahami dari kenyataan, bahwa semakin anyak butir item yang dapat dijawab dengan betul oleh testee, maka skor-skor total-total hasil tes tersebut akan semakin tinggi.
Pernyataan tersebut merupakan petunjuk bahwa semaain besar “dukungan” yang diberikan oleh butir-butir item terhadap tes hasil- elajar, maka tes tersebut akan semakin dapat menunjukan “kemantapannya”.
2. Teknik Pengujian Validitas Item Tes Hasil Belajar
       Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, kiranya menjadi cukup jelas bahwa sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesesajaran arah dengan skor totalnya ; atau dengan bahasa statistic: ada korelasi positif yang signifikan antara skor item dengan skor totalnya.

F. Faktor-faktor yang mempengaruhi Validitas
Menurut Retno ada beberapa hal yang mempengaruhi validitas alat pengukur sebagai berikut :
1.      Faktor di dalam tes itu sendiri
2.       Faktor dalam respon siswa, ini terjadi jika : Siswa mengalami gangguan emosional dalam menjawab tes, Siswa hanya cendrung menerka-nerka dalam menjawab tes,
3.      Faktor dalam mengadministrasi tes dan pembijian.

0 komentar :

Poskan Komentar

Berita di BEM STKIP Hamzanwadi Selong

Berita dan Fakta Ilmiah Harian

 
HMPS Pendidikan Biologi STKIP Hamzanwadi Selong | © 2010 by derajad | Supported by duaderajad & Free Themes